Minggu, 25 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
funpark-maroc.comfunpark-maroc.com
funpark-maroc.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Jangan buru-buru percaya, cek dulu sumbernya

Jangan buru-buru percaya, cek dulu sumbernya

Literasi berita sering luput dibahas untuk pensiunan. Padahal ini yang bikin kita tidak gampang tertipu hoaks di grup keluarga.

Jangan buru-buru percaya, cek dulu sumbernya

Gue sering dapat cerita dari tetangga yang sudah pensiun. Pagi-pagi buka HP, langsung disuguhi berita heboh di grup keluarga. Entah itu soal obat mujarab, kebijakan baru yang bikin panik, atau "kabar duka" artis yang ternyata masih sehat walafiat. Dia percaya. Diteruskan ke grup lain. Besoknya malu sendiri karena ternyata hoaks.

Nah, yang jarang dibahas orang soal berita itu bukan soal cepat atau lambat dapatnya. Bukan juga soal aplikasi apa yang dipakai. Yang jarang dibahas justru hal paling mendasar: bagaimana memilah berita yang layak dipercaya dari yang cuma bikin ribut. Buat kita yang sudah masuk masa pensiun, ini bukan perkara sepele. Waktu luang kita banyak, tapi energi untuk ribut gara-gara kabar bohong juga makin tipis.

Kenapa pensiunan jadi sasaran empuk?

Bukan karena kurang pintar. Justru banyak pensiunan yang pendidikannya tinggi, mantan pejabat, mantan guru, mantan perawat. Masalahnya lain: kita tumbuh di zaman informasi dipercaya karena datang dari "sumber resmi". Dulu, kalau ada pengumuman, ya dari kantor pos, dari kelurahan, dari koran langganan. Sekarang sumbernya siapa saja, dan semuanya kelihatan resmi karena ada logo dan tulisan tebal.

Gue pernah ngobrol sama seorang pensiunan guru di Bandung. Dia bilang, "Saya kan sudah biasa baca Koran Kompas dari halaman satu sampai belakang. Masak saya nggak bisa bedain berita asli sama palsu?" Ternyata dia kena tipu juga. Bukan karena dia nggak teliti, tapi karena tampilan berita palsu sekarang rapi banget. Fontnya mirip, tata letaknya mirip, bahkan ada nama media yang ditempel asal-asalan.

Baca juga: Demo Nabire Disorot Isu Freeport dan Otsus

Yang bikin repot bukan beritanya, tapi rasa percaya kita yang dulu terbentuk di zaman yang berbeda.

Ini yang jarang disadari. Kita tidak sedang menghadapi "berita bohong biasa". Kita menghadapi industri yang memang dirancang untuk menipu orang yang terbiasa percaya. Dan kita, para pensiunan, sering jadi target karena dianggap punya waktu, punya tabungan, dan punya jaringan keluarga yang luas untuk menyebarkan.

Tiga kebiasaan kecil yang menyelamatkan

Gue nggak akan kasih daftar panjang. Cukup tiga hal yang bisa langsung dipraktikkan hari ini juga.

Baca Juga: Satu klik sudah cukup untuk membuka pintu pengalaman baru!

1. Cek tanggal dan nama penulis

Berita asli hampir selalu punya tanggal terbit yang jelas dan nama penulis yang bisa dicari. Kalau berita heboh tapi nggak ada nama penulisnya, atau tanggalnya aneh ("2 tahun lalu" tapi dikirim hari ini), itu lampu kuning. Banyak hoaks lama didaur ulang supaya terlihat baru. Gue sendiri pernah hampir ikut menyebarkan berita bencana yang ternyata kejadiannya lima tahun silam.

2. Baca sampai habis, jangan cuma judul

Judul berita sekarang memang dibikin menggoda. Tapi isinya sering nggak nyambung. Kalau judulnya bikin jantung berdebar, justru itu tanda harus dibaca pelan-pelan. Cari kalimat yang menyebut sumbernya. Kalau isinya cuma "menurut seorang sumber yang tidak ingin disebutkan namanya" dan berulang-ulang, curigai.

3. Tanya satu orang sebelum meneruskan

Ini yang paling sederhana dan paling ampuh. Sebelum menekan tombol teruskan ke grup keluarga, tanya dulu ke satu orang yang kamu percaya: "Ini beneran nggak?" Sering kali cukup satu pertanyaan untuk menghentikan hoaks berjalan lebih jauh. Keluarga kita berhak dapat informasi yang benar, bukan yang bikin panik.

Yang lebih penting dari sekadar "jangan percaya"

Ada satu hal lagi yang jarang dibicarakan. Kita sering dinasihati "jangan mudah percaya berita". Tapi nasihat itu setengah hati. Karena kalau kita jadi tidak percaya semua berita, kita juga rugi. Kita jadi apatis, tidak tahu kebijakan baru soal pensiun, tidak tahu perubahan layanan kesehatan, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita.

Yang sehat bukan tidak percaya apa pun, tapi tahu harus percaya pada siapa. Biasakan punya dua atau tiga sumber yang benar-benar bisa diandalkan. Misalnya situs resmi pemerintah, media besar yang punya alamat redaksi jelas, atau kantor kelurahan. Kalau berita heboh datang dari sumber lain, anggap itu "kabar angin" sampai terbukti di sumber yang kita percaya.

Gue kadang mikir, zaman sekarang jadi pensiunan itu butuh keberanian baru. Bukan keberanian menghadapi penyakit atau kesepian, tapi keberanian untuk bilang "saya belum tahu, saya cek dulu". Itu kalimat yang justru bikin kita dihormati, bukan dianggap ketinggalan zaman.

Mulai dari grup keluarga sendiri

Kalau kamu punya grup WhatsApp keluarga yang isinya ramai berita tanpa dicek, coba jadi orang yang pertama bertanya. Bukan menuduh, bukan menggurui. Cukup, "Ini sumbernya dari mana ya?" Pelan-pelan, kebiasaan itu menular. Anak dan cucu kita akan melihat bahwa orang tua mereka tidak asal percaya. Itu warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar meneruskan pesan berantai.

Berita itu bukan cuma soal apa yang terjadi di luar sana. Berita adalah soal ketenangan kita di rumah. Dan ketenangan itu, sebagian, bisa kita jaga sendiri dengan satu kebiasaan kecil: berhenti sebentar sebelum meneruskan.

Tags: literasi digital hoaks pensiunan berita palsu media sosial