Breaking News
"Berita" adalah sajian informasi terkini yang mencakup peristiwa penting, fenomena sosial, perkembangan ekonomi, politik, teknologi, hiburan, hingga bencana alam, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Kontennya disusun berdasarkan fakta dan disampaikan secara objektif, akurat, dan dapat dipercaya sebagai sumber referensi publik.
Grab
Grab
Grabe Grabe Grabe

Separuh Karyawan Cemas Tergusur oleh AI

Aimas – Separuh Karyawan Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menciptakan kekhawatiran di kalangan pekerja di seluruh dunia.

Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 50% karyawan mengaku cemas akan kemungkinan tergantikan oleh AI dalam pekerjaan mereka.

Kecemasan ini mencuat seiring adopsi AI yang semakin luas dalam berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur, keuangan, hingga layanan pelanggan.

Perusahaan-perusahaan mulai mengimplementasikan teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi, memangkas biaya, dan mempercepat proses bisnis.

Separuh Karyawan
Separuh Karyawan

 

Baca Juga : Palestina tuding Israel hancurkan artefak Islam di Masjid Al-Aqsa

Namun di balik efisiensi itu, muncul kekhawatiran bahwa pekerjaan manusia akan digantikan mesin yang tidak pernah lelah dan lebih presisi.

Para pekerja terutama di sektor administratif, input data, dan layanan pelanggan merasa posisi mereka mulai terancam.

“Saya mulai melihat kolega digantikan oleh sistem otomatis. Itu menakutkan,” ujar Rina, staf administrasi di perusahaan logistik.

AI kini dapat menangani tugas seperti menjawab email, membuat laporan, hingga menyusun strategi pemasaran berbasis data.

Bahkan dalam industri kreatif, AI telah mampu membuat konten tulisan, desain grafis, hingga musik, membuat pekerja kreatif mulai waswas.

Bagi banyak karyawan, hadirnya AI tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan kompetitor tak kasat mata.

Riset dari World Economic Forum menyebutkan bahwa sekitar 85 juta pekerjaan mungkin tergantikan oleh AI dan otomasi hingga 2025.

Di sisi lain, AI juga diperkirakan menciptakan 97 juta pekerjaan baru, tetapi pekerjaan-pekerjaan itu menuntut keterampilan yang berbeda.

Artinya, mereka yang tidak siap beradaptasi dengan teknologi kemungkinan besar akan tertinggal.

Perubahan ini menuntut pekerja untuk memiliki kemampuan digital, berpikir kritis, serta fleksibilitas belajar hal baru.

Namun tidak semua orang memiliki akses atau waktu untuk melakukan reskilling atau upskilling di tengah kesibukan kerja.

Para pekerja berusia di atas 40 tahun menjadi kelompok yang paling rentan, karena mereka lebih sulit beradaptasi dengan perubahan teknologi cepat.

Banyak dari mereka merasa kehilangan arah dan tidak percaya diri untuk bersaing dengan generasi muda yang melek teknologi.

Pemerintah dan perusahaan pun mulai didesak untuk mengambil peran dalam menyediakan pelatihan dan transisi kerja bagi karyawan terdampak.

Sayangnya, tidak semua perusahaan memiliki program pelatihan yang memadai, dan banyak yang menyerahkan proses adaptasi sepenuhnya pada individu.

Akibatnya, kecemasan kolektif ini berpotensi mempengaruhi produktivitas dan kesehatan mental pekerja secara signifikan.

tokopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *