aimas – Pangkostrad datangi lokasi demo Jakarta kembali memanas dengan gelombang aksi demonstrasi di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, pada Jumat (30/8).
Ratusan massa berkumpul menyuarakan aspirasi mereka terkait berbagai isu sosial dan kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat kecil.

Baca Juga : Djokovic terus melaju di US Open meski belum temukan performa terbaik
Namun yang menjadi sorotan hari itu adalah kehadiran langsung Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen TNI Agus Suhardi, di tengah kerumunan.
Letjen Agus Suhardi datang tanpa pengawalan berlebihan, mengenakan seragam dinas lengkap dan berinteraksi langsung dengan para pengunjuk rasa.
Kehadirannya di lokasi demo ini bukan untuk memimpin pasukan, melainkan untuk mendengar langsung aspirasi dan tuntutan massa.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk pendekatan humanis yang jarang dilakukan oleh pejabat tinggi militer di tengah situasi demonstrasi.
Pangkostrad tiba sekitar pukul 14.00 WIB dan langsung disambut oleh aparat yang telah berjaga di lokasi sejak pagi hari.
Ia berjalan menuju titik utama konsentrasi massa dengan tenang, sambil menyapa beberapa warga dan orator yang sedang berorasi.
Beberapa peserta aksi sempat terkejut dan kagum karena tidak menyangka seorang jenderal akan hadir langsung ke tengah-tengah mereka.
Letjen Agus kemudian meminta mikrofon dan berbicara langsung kepada massa, menyampaikan niatnya untuk mendengarkan dan mencatat aspirasi mereka.
“Saya ke sini bukan untuk melarang aksi, tapi untuk mendengar. Silakan sampaikan dengan tertib, kami akan catat dan teruskan,” ujarnya di atas mobil komando.
Sontak, situasi yang sempat memanas menjadi lebih tenang. Massa mulai memperhatikan dan menghormati keberadaan Pangkostrad.
Salah satu koordinator lapangan aksi menyampaikan 7 poin tuntutan kepada Pangkostrad, termasuk soal keadilan sosial, hak buruh, dan pengawasan penggunaan kekuatan oleh aparat.
Pangkostrad menyimak dengan serius, didampingi ajudan yang mencatat setiap poin penting dalam tuntutan tersebut.
“Saya tidak bisa menjanjikan perubahan hari ini, tapi saya berjanji ini akan sampai ke meja yang berwenang,” tegas Letjen Agus.
Ia juga menekankan bahwa TNI berada di sisi rakyat, dan tidak ingin melihat kekerasan terjadi dalam penyampaian pendapat di ruang publik.
Beberapa peserta aksi sempat berdialog langsung dengan Pangkostrad, menyampaikan keluhan mereka secara pribadi.
Salah satu buruh menyampaikan bahwa ia dipecat sepihak oleh perusahaan dan belum mendapatkan keadilan hukum.
Letjen Agus mencatat kasus tersebut dan meminta agar nama dan data lengkap korban diberikan untuk ditindaklanjuti lebih lanjut.
Pendekatan terbuka ini menciptakan suasana yang lebih damai dan konstruktif di tengah potensi bentrokan antara massa dan aparat.















