Aimas – Tagar boikot Trans7 Kisruh bermula dari sebuah sketsa di salah satu acara komedi di Trans7 yang dianggap menyudutkan santri dan pesantren. Dalam tayangan tersebut, sosok “santri” digambarkan dengan cara yang stereotip dan merendahkan, diselingi dialog yang dianggap tak pantas dalam konteks agama.

Baca Juga : Prabowo panggil sejumlah menteri evaluasi PP soal devisa hasil ekspor
Tak butuh waktu lama, media sosial pun ramai. Tagar #BoikotTrans7 melesat di platform X (dulu Twitter), disertai kecaman dari tokoh-tokoh pesantren, organisasi Islam, hingga alumni pondok pesantren di berbagai daerah.
Bukan Soal Tersinggung, Tapi Terganggu
Banyak yang keliru mengira ini hanya soal “kaum sensi” yang tak kuat melihat candaan. Padahal, kemarahan publik lebih pada soal representasi dan sensitivitas
Pesantren selama ini dikenal sebagai tempat pendidikan Islam yang melahirkan ulama, guru, pejuang kemerdekaan, hingga pemimpin bangsa. Saat lembaga sebermakna itu dijadikan bahan lawakan tanpa pemahaman, wajar bila muncul reaksi keras.
“Kami bukan anti-hiburan. Tapi jangan jadikan simbol-simbol pesantren seperti sarung, peci, dan kitab kuning sebagai lelucon murahan,”
ujar salah satu pengasuh pesantren di Jawa Timur.
Mengapa Budaya Pesantren Tak Bisa Dipelintir Seenaknya
Budaya pesantren bukan sekadar tempat tidur berjejer atau ngaji malam hari. Ia adalah perpaduan antara ilmu, akhlak, dan tradisi luhur yang terjaga ratusan tahun.
Dalam pesantren, nilai kesopanan, ketawadhuan kepada guru, dan adab dalam berkata adalah fondasi. Maka, ketika media menggambarkan santri dengan nada melecehkan, itu tak hanya menyakiti—tapi merusak pemahaman publik terhadap lembaga pendidikan tertua di Indonesia itu.
Hiburan Perlu Batas, Budaya Perlu Dihormati
Kebebasan berekspresi tentu penting. Dunia hiburan memang memberi ruang bagi kritik sosial, satire, dan bahkan komedi absurd. Namun, kebebasan itu seharusnya dibarengi tanggung jawab budaya.
Menjadikan pesantren sebagai objek candaan, tanpa riset dan empati, justru menciptakan jurang antara hiburan dan masyarakat. Terlebih di tengah naiknya kesadaran publik akan pentingnya menjaga keberagaman budaya dan agama.















