Aimas – Jalan Sorong utama yang menghubungkan Kota Sorong dengan Aimas, ibu kota Kabupaten Sorong, kembali dikeluhkan masyarakat.
Jalan yang seharusnya menjadi akses vital antarwilayah ini mengalami kerusakan parah di sejumlah titik, terutama di sekitar kilometer 14 hingga 18.
Kerusakan jalan ditandai dengan lubang-lubang besar, aspal yang mengelupas, serta menampung udara di musim hujan.
Kondisi ini sangat membahayakan para pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor.
Pada Selasa pagi (17/8), seorang pengendara motor dilaporkan terjatuh terperosok ke dalam lubang sedalam sekitar 20 cm.
Korban diketahui seorang ibu rumah tangga berusia 32 tahun yang sedang mengantar anaknya ke sekolah.

Baca Juga: Mahasiswa Baru STIKes Papua Kota Sorong Ikut Pengenalan Kampus Bertema “STECU
Kecelakaan terjadi akibat roda depan motornya masuk ke dalam lubang dan membuatnya kehilangan kendali.
Korban mengalami luka di kaki dan tangan, sementara anaknya mengalami benturan ringan di kepala.
Warga yang berada di sekitar lokasi kejadian segera membantu korban dan membawanya ke puskesmas terdekat.
“Sudah sering kejadian seperti ini. Hampir tiap minggu ada yang jatuh,” kata Yunus, warga yang tinggal tak jauh dari lokasi.
Menurutnya, lubang itu sudah terakhir tanpa penanganan dari pihak yang berwenang.
Tak hanya sepeda motor, kendaraan roda empat pun harus ekstra hati-hati agar tidak mengalami kerusakan suspensi atau ban.
Beberapa sopir angkutan umum bahkan memilih jalur alternatif yang lebih jauh untuk menghindari kerusakan kendaraan.
Selain lubang jalan, penerangan minimalnya di malam hari semakin memperparah risiko kecelakaan.
“Kalau hujan dan malam hari, jalan ini jadi seperti jebakan,” ujar seorang pengemudi ojek online.
Kerusakan jalan Sorong–Aimas ini tidak hanya berdampak pada keselamatan pengguna, tetapi juga mengganggu arus logistik antarwilayah.
Banyak kendaraan pengangkut barang yang terpaksa mengurangi kecepatan drastis, menyebabkan kemacetan di beberapa titik.
Waktu tempuh antara Sorong dan Aimas yang seharusnya hanya 30 menit kini bisa mencapai 50 hingga 60 menit.
Kondisi ini juga berdampak pada kenaikan angkutan transportasi, karena biaya perawatan kendaraan meningkat.
Sejumlah warga sudah melayangkan laporan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) setempat.















